Sejarah dan budaya suatu bangsa dapat dilihat dari unsur yang tidak terduga. Makanan adalah salah satunya. Ini karena makan bukan sekadar pengganjal perut untuk mempertahankan hidup. Makan adalah sebuah proses budaya yang dimulai dari pemilihan bahan, mengolah bumbu, memasak, tata cara penyajian, hingga memakannya.
Aria Wirathama, pemerhati Sejarah menjelaskan, di Jawa, lantaran penjajahan kecerdasan lokal (local genius) penduduknya muncul dengan menciptakan jenis makanan baru. Tempe dan gudeg adalah contohnya.
Tempe, menurut sejarawan Onghokham yang juga terkenal sebagai gourmet, adalah makanan asli dari Jawa karena tidak ada tempe Manado, Bali, atau Medan. Makanan kaya protein tersebut diperkirakan dikembangkan pada 1830-1850 ketika pemerintah kolonial menerapkan sistem perekonomian yang kita kenal sebagai sistem tanam paksa.
Akibatnya ketika terjadi gagal panen yang melanda sejumlah sejumlah daerah di Jawa, terjadilah wabah kelaparan seperti di Cirebon pada 1843, Demak 1848, dan Grobogan 1849-1850. Tingkat kedahsyatan wabah tersebut terlihat dari jumlah penduduk yang berkurang drastis akibat mengungsi dan meninggal. Demak, misalnya, jumlah penduduknya berkurang dari 336.000 menjadi 120.000 orang, sedangkan Grobogan dari 89.500 menjadi 9.000 orang.
Menurut Ong, tempe merupakan kreativitas orang Jawa untuk memenuhi kebutuhan proteinnya, terutama nabati karena harganya yang murah. Meski sama-sama terbuat dari kedelai, cara pembuatan tempe lebih sederhana ketimbang tahu yang berasal dari China, cukup membungkus kedelai dan diberi sedikit ragi.
Tempe yang dibungkus daun pisang dianggap sebagai yang paling enak, karena aroma daun tersebut bisa meresap ke dalam tempe. Meskipun sekarang sudah jarang kita dapati karena harga daun pisang yang mahal dan membuat harga tempe bisa melonjak dan membebani orang miskin yang ingin memenuhi kebutuhan proteinnya. Itu belum lagi harga bahan baku kedelai yang meroket karena sebagian besar kedelai masih diimpor.
Selain tempe, kreativitas orang Jawa juga terlihat dari penciptaan makanan gudeg yang juga menjadi substitusi daging yang juga lahir di tengah-tengah kolonialisme. Tidak jelas memang kapan dan lantaran apa kedua makanan itu lahir. Selain akibat penjajahan, kedua makanan tersebut juga disebabkan sebagai konsekuensi semakin luasnya penyebaran Islam di Jawa.
Islam bukan hanya mempengaruhi cara peribadatan, namun juga perilaku makan penduduk. Jika sebelumnya untuk memperoleh protein penduduk Jawa mengonsumsi daging babi. Karena Islam melarang makan daging babi dan daging sapi berharga mahal, maka penduduk mencoba mencari penggantinya dengan membuat tempe dan mengolah nangka muda yang rasanya kenyal dan berbentuk seperti daging. Bahkan konon, gudeg yang diolah dengan gula aren dan santan memiliki kadar lemak yang sama dengan daging, sehingga orang yang ingin berdiet juga disarankan untuk mengurangi makan gudeg.
“Tempe adalah makanan yang egaliter yang menghilangkan sekat-sekat status yang memakannya. Tempe yang dimakan seorang presiden sama dengan tempe yang dimakan orang miskin. Hanya cara pengolahan dan penyajiannya saja yang berbeda. Begitu pula, tempe dapat dimakan kapan pun baik dalam keadaan panas maupun dingin, digoreng atau direbus karena sama nikmatnya,” tutur pengamat sejarah Universitas Indonesia, JJ Rizal, Sabtu (11/02/2017).
Bung Karno pernah mengatakan jangan pernah menjadi bangsa tempe. Ucapannya itu bukan ingin merendahkan makanan rakyat tersebut. Sebaliknya, Sukarno sangat menyukai makanan tersebut dan memakannya sekaligus mendekatkan dirinya dengan rakyat yang sangat dicintainya. Maksud ucapannya tersebut lantaran tempe tercipta ketika Indonesia berada dalam penjajahan. Jadi, meskipun sangat bergizi, tetapi tempe adalah simbol bangsa Indonesia yang terjajah.
